Beranda | Artikel
Sikap Terhadap Perselisihan Para Sahabat
16 jam lalu

Sikap Terhadap Perselisihan Para Sahabat adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Kitab Syarhus Sunnah karya Imam Al-Barbahari Rahimahullah. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Dr. Iqbal Gunawan, M.A Hafidzahullah pada Rabu, 18 Rajab 1447 H / 7 Januari 2026 M.

Kajian Islam Tentang Sikap Terhadap Perselisihan Para Sahabat

“Hendaknya menahan diri dari membicarakan peperangan yang terjadi antara Ali, Muawiyah, Aisyah, Thalhah, dan Zubair Radhiyallahu Ta’ala ‘Anhum, serta siapa saja yang bersama mereka. Janganlah berdebat tentang hal tersebut dan serahkan urusan mereka kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala.”

Nasihat ini merupakan salah satu pokok akidah Ahlusunnah wal Jamaah, yaitu diam dan tidak mengungkit-ungkit perselisihan yang terjadi di antara para sahabat radhiyallahu ta’ala ‘anhum. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah memberikan peringatan:

إِيَّاكُمْ وَذِكْرَ أَصْحَابِي وَأَصْهَارِي وَأَخْتَانِي

“Hendaklah kalian menjauhi menyebut-nyebut keburukan sahabat-sahabatku, keluarga-keluargaku, serta menantu dan ipar-iparku.” (HR. Al-Uqaili).

Para sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah manusia terbaik setelah para nabi dan rasul. Sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

“Sebaik-baik manusia adalah yang hidup di zamanku, kemudian yang hidup setelah mereka, kemudian yang hidup setelah mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Definisi sahabat adalah setiap orang yang pernah berjumpa dengan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam keadaan beriman kepada beliau dan meninggal dunia di atas keimanan tersebut. Meskipun seseorang hanya sekali bertemu dengan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, ia tetap menyandang status sahabat. Sebagian ulama menambahkan bahwa meskipun seseorang sempat murtad namun kembali masuk Islam dan meninggal dalam keadaan Islam, ia tetap terhitung sebagai sahabat.

Sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memiliki kemuliaan yang lebih tinggi dibandingkan sahabat Nabi Musa ‘Alaihis Salam maupun sahabat Nabi Isa ‘Alaihis Salam. Karena Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah manusia terbaik, maka orang-orang yang dipilih Allah untuk mendampingi beliau pun merupakan generasi terbaik.

Urutan Keutamaan Para Sahabat

Di antara para sahabat, terdapat sepuluh orang yang secara khusus dijamin masuk surga dalam satu hadits:

“Abu Bakar di surga, Umar di surga, Utsman di surga, Ali di surga, Thalhah di surga, Az-Zubair di surga, Abdurrahman bin Auf di surga, Sa’ad bin Abi Waqqas di surga, Said bin Zaid di surga, dan Abu Ubaidah bin al-Jarrah di surga.” (HR. Tirmidzi)

Urutan kemuliaan yang paling utama adalah Khulafaur Rasyidin, dimulai dari Abu Bakar ash-Shiddiq, kemudian Umar bin Khattab. Mengenai keutamaan antara Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib, pendapat yang lebih kuat menempatkan Utsman lebih afdhal daripada Ali. Namun, seseorang yang berpendapat Ali lebih afdal daripada Utsman tidak serta-merta disebut sebagai ahli bid’ah karena hal ini bukan termasuk pokok agama yang bersifat prinsipil. Sebaliknya, mendahulukan Ali di atas Abu Bakar dan Umar merupakan kesalahan fatal yang menyelisihi banyak riwayat shahih.

Seluruh kaum Muslimin wajib meyakini keutamaan dan kemuliaan para sahabat. Meskipun memiliki kedudukan yang mulia, harus diyakini bahwa para sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak maksum atau tidak terbebas dari kesalahan. Mereka pun pernah terjatuh dalam perbuatan dosa, bahkan sebagian di antaranya terjatuh dalam dosa besar.

Akan tetapi, mereka segera bertobat. Sebagian dari mereka bahkan ada yang menjalani hukuman rajam yang dilaksanakan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Hal ini menunjukkan bahwa mereka bukanlah orang-orang yang maksum. Namun, kebaikan-kebaikan yang mereka lakukan sangatlah besar dan tidak dapat dibandingkan dengan orang-orang yang datang setelah mereka.

Perbandingan Amal antara Sahabat dan Generasi Setelahnya

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan perumpamaan mengenai besarnya pahala infak para sahabat. Seandainya ada seseorang di zaman ini yang sangat dermawan dan berinfak hingga miliaran rupiah, nilainya tetap tidak sebanding dengan infak para sahabat.

Bahkan jika seseorang berinfak emas seberat Gunung Uhud—yang panjangnya mencapai tujuh kilometer dengan berat ratusan ton—pahala tersebut tidak akan mampu menyamai infak satu mud (satu cakupan dua telapak tangan) atau bahkan setengah mud dari apa yang dikeluarkan oleh para sahabat. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي، فَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَوْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا أَدْرَكَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلَا نَصِيفَهُ

“Janganlah kalian mencela sahabat-sahabatku. Seandainya salah seorang di antara kalian menginfakkan emas sebesar Gunung Uhud, maka itu tidak akan mencapai satu mud (infak) salah seorang dari mereka dan tidak pula setengahnya.” (HR. Bukhari)

Hal ini menunjukkan betapa agung kedudukan dan manzilah para sahabat di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebagian ulama menyatakan bahwa seandainya seseorang beramal shalih sepanjang hidupnya, ia tidak akan bisa menyamai derajat sahabat yang paling rendah di sisi Allah ‘Azza wa Jalla.

Bagaimana pembahasan lengkapnya? Mari download dan simak mp3 kajian yang penuh manfaat ini.

Download MP3 Kajian

Mari turut membagikan link download kajian tentang “Sikap Terhadap Perselisihan Para Sahabat” yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga menjadi pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.

Telegram: t.me/rodjaofficial
Facebook: facebook.com/radiorodja
Twitter: twitter.com/radiorodja
Instagram: instagram.com/radiorodja
Website: www.radiorodja.com

Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :

Facebook: facebook.com/rodjatvofficial
Twitter: twitter.com/rodjatv
Instagram: instagram.com/rodjatv
Website: www.rodja.tv


Artikel asli: https://www.radiorodja.com/55979-sikap-terhadap-perselisihan-para-sahabat/